Wajah Yang Merelakan Namun Perasaan Yang tak Mengiklaskan.

265 views

Wajah yang merelakan namun perasaan yang tak Mengiklaskan. Seseorang bisa saja membuat wajahnya biasa saja saat bertemu dengan orang dicintainya namun terpaksa harus berjuang melupakan. Seseorang bisa saja terlihat dari luar bahwa ia sanggup mengatur semuanya akan tetap baik setelah arus perjuangan hatinya terhantam karang. Tercerai berai dan menjadi BUIH, lalu menguap, hilang. Selama ini tanpa sadar bahwa kita sebenarnya sangat jago berakting, memperlihatkan suatu hal yang akan disukai orang lain. Memperlihatkan hal-hal yang sebenarnya bertentangan dengan kenyataan. Dengan keberhasilan sementara membunuh gemuruh dada, kita mencoba untuk tetap terlihat tegar, bahagia dan baik-baik saja.

merelakan

Wajah bisa kita rubah menjadi penipu ulung, bahwa kita sedang menunjukkan fase cuek, fase dimana kita tidak peduli lagi, fase dimana kita tertawa lepas. Namun perasaan tidak selalu bisa kita bohongi, atau lebih tepatnya perasaan tak pernah berbohong. Akan ada perasaan sesak didada saat melihat seseorang yang sudah kita perjuangkan namun tidak memperjuangkan kembali. Perasaannya mengalir mengikuti arus lukanya hati, semakin deras, dalam dan tajam. Menyapu ruang-ruang kosong, melibas tegar dada yang sedang mencoba untuk kembali kuat. Seakan semuanya ikut berperang dalam perasaan.

Begitupun perasaanku ketika bertemu kembali denganmu setelah dirimu menjadi masa lalu. Sesuatu hal yang begitu sakit memperlihatkan kedikjayaan untuk melumat kerapuhan. Keperkasaanku ketika memperjuangkanmu dulu seketika lenyap digulung oleh yang namanya pertemuan. Aku selalu menyesalkan pertemuan seperti ini, dimana rasa rindu yang dulu pernah mengiringinya, digantikan oleh suatu hal yang tak pernah aku minta. Pertemuan denganmu yang sekarang tidak lagi indah, justru menjadi momen terburuk setelah perjuangan pada hari-hari patah dan kalah.

Perasaan memang tak bisa dibohongi, aku tahu itu. Barangkali sebab inilah mengapa banyak orang yang mencoba MENGHINDAR untuk bertatap muka secara langsung dan memilih diam. Karna ketakutan akan rasa sakit yang menjelma bayang kuat dan tidak Dapat dipungkiri bahwa aku juga harus memilih untuk tidak terlibat.

kata merelakan

Penulis: 
author
Kami adalah seorang penulis yang giat menulis dan membaca, berbagi informasi yang Insya Allah bermanfaat untuk diri kami sendiri dan orang lain.

Posting Terkait

Tinggalkan pesan