Surat kecil untuk ayah

227 views

Ayah.Apa kabar hari? Semoga selalu dalam keadaan sehat.
Untuk pertama kali, Aku ingin memohon maaf padamu, tentang hal yang pernah kulakukan dulu. Entah mengapa sampai saat ini aku merasa malu mengakuinya di depanmu.

Surat kecil untuk ayah

gendoon.com/surat-kecil-untuk-ayah

Ayah, aku hanya mencium tanganmu satu kali dalam setahun, rasanya itu tidaklah cukup untuk mengubur dosa-dosa yang semakin hari tak terkira jumlahnya. Aku masih saja merasa ada yang mengganjal saat aku ingin bersamamu, menghabiskan waktu, bercerita tentang masa mudamu dulu. Apa aku yang berpikir bahwa diriku sudah dewasa, sehingga merasa malu untuk bercerita. Entahlah, banyak hal yang tak kumengerti tentang bagaimana berkolaborasi denganmu perihal masalah-masalah hidupku. Aku tak bisa bercerita, atau aku memang tak ingin membuatmu bersedih tentang hal-hal ku alami saat ini. Hal itu membuatku tak tahu harus berbuat apa, bagaimana mungkin aku merasa tak akrab dengan ayah yang selalu memberikan senyuman di pagi buta? Semakin aku memikirkan, semakin aku tenggelam dalam kesedihan.

 

Ayah,
Semoga Tuhan memperpanjangkan umurmu hingga kita bisa bertemu di lain waktu. Hingga aku mampu membuka diriku untuk selalu bersyukur memiliki laki-laki hebat yang menjaga keluarga dalam hening malam sampai senja.
Hingga aku mampu berdiri sendiri tanpa merepotkan tenaga dan pikiranmu, hingga aku bisa menemukan apa yang belum engkau dapatkan. Hingga aku telah mendapatkan orang yang aku idamkan. Hingga aku terbiasa melakukannya sendirian. Selama itu, aku ingin engkau selalu mendukungku dalam setiap doa-doamu.

 

Surat kecil untuk ayah

gendoon.com/ayah

Ayah,

Banyak hal yang ingin aku utarakan padamu, banyak sekali. Nanti jika waktunya tiba, aku akan bercerita tentang apa saja. Apa pun itu aku ingin menumpahkan segala keluh kesahku padamu, hingga engkau menepuk pundakku lalu berkata “ inilah resiko menjadi laki-laki, kamu harus siap menghadapi segala kemungkinan hidup ini. Apa pun itu, jangan pernah mundur untuk mencari sesuap nasi. Bahagiakan lah istri dan anak-anakmu sekalipun kamu harus bersusah-susah menggapai hal itu “.
Untuk itu aku ingin tetap melihatmu tersenyum dalam hari-hari yang terkadang tak sesuai dengan harapan.
Aku tahu, berulang kali engkau gagal, namun aku tak melihatmu berputus asa dalam berusaha.

Surat kecil untuk ayah

gendoon/penulis

Ayah,
Saat ini aku hanya bisa membantumu dalam doa-doaku, aku belum bisa berjalan dari apa yang engkau harapkan.
Aku, belum mampu mengganti keringatmu dengan senyuman. Aku belum sanggup menjadi kebanggaan seperti saat masa kecilku dulu saat engkau menyenangkan aku di pundakmu.

Ayah,
Dalam banyak kesempatanku menjalani hari. Aku berdoa semoga senyuman tetap melingkari hidupmu, semoga saja engkau di beri banyak kekuatan lagi untuk mengarungi hari-hari.
Aku tak ingin lagi, jika harus melihat air terjatuh dari pipimu hanya karna anakmu, sebenarnya aku tidak ingin berbuat seperti itu, hanya saja aku memang tidaklah cukup mengerti bagaimana susahnya kerja keras dan lebih keras lagi untuk membahagiakan orang yang selalu menunggu dalam kepulangan. Bagaimana pun juga sepatutnya aku tidaklah harus semauku, sebab engkau sudah terlalu lelah hingga tergambar dalam gurat wajah serta tanganmu yang tak kuat seperti dulu.

Ayah,
Hal yang aku takutkan adalah saat aku belum menjadi orang-orang mapan namun engkau telah memasuki usia senja. Hal itu membuatku berada dalam kebimbangan. Antara mencari masa depanku agar cerah, ataupun membahagiakanmu di hari senja itu.
Namun aku berjanji pada diriku, untuk segera menyelesaikan apa yang aku rencanakan.
Bersabarlah sedikit lagi untuk menunggu aku pulang di hari raya idul fitri.
Maaf, jika aku banyak menghadirkan luka dan air mata dari pada kehangatan yang engkau impikan.

Banyak sekali yang ingin aku tulis di sini, namun semakin aku menulis dan membayangkanmu semakin aku aku teringat akan dosa-dosaku dulu.
Maaf, sampai akhir 2017 aku tidak pulang, dan mungkin 2018 pun aku tak akan datang. Semoga engkau mengerti.

Ayah,
Terimakasih atas segala hal yang engkau beri, aku tetap mengingatnya dalam sanubari.

Oleh gendoon.

Ayah Curhatan Gendoon Surat

Penulis: 
author
Kami adalah seorang penulis yang giat menulis dan membaca, berbagi informasi yang Insya Allah bermanfaat untuk diri kami sendiri dan orang lain.

Posting Terkait

Tinggalkan pesan