Sebuah catatan hitam

389 views

Entah mengapa mulut tak sanggup lagi berkata, jangankan mulut, hatipun jika teringat janji dulu seakan meleleh bagaikan lilin, mengalah hanya demi kebahagiaan sepihak.

Hanya mengenang masa itu, bukanya hati tak sanggup berpindah dambaan, akan tetapi tak ada kemauan untuk melupakan segalanya yang pernah terjadi. Kenangan memang tak selamanya indah seperti akhir dari sebuah drama sinetron, tapi kenangan itu mengajarkan aku tentang bagaimana bahagianya memiliki orang yang pernah dicita-citakan, walaupun hanya sebentar. Tetapi maknamu memang terindah dari sekian mantan.

Goresan pena yang coba aku tuliskan bukan hanya sekedar ungkapan hati yang lepas kontrol, bukan pula rasa lemah menjadi seorang laki-laki, bukan pula karna rasa kecewa yang mendalam, ini adalah bentuk keikhlasanku untuk melepaskanmu dari bayang-bayangku. Bayangan hitamku, mungkin saja dapat dikatakan keegoisanku. Maaf, baruku menyadari arti kehadiran seorang yang benar-benar mengedepanku dari apapun.

Menyesalpun tak akan ada artinya lagi, jika sudah seperti itu tak mau aku menyesal lagi. Tak peduli lagi tentangmu tak perlu bermuluk-muluk lagi berkeinginan untuk mengharapkan yang tak bisa diharapkan lagi.
Kehidupan yang telah terjadi, tetaplah berjalan. Disini aku tak perlu bersusah-susah mengoreksi kesalahan masa lalu, namun terkadang ketidakmengertian dalam memahami rasa kedamaian yang secara cepat lenyap terbesit dalam otak kanan dan kiriku.
Menyesalkah aku?
Benarkah?
Untuk apa semuanya?
Mencoba tuk yakinkan hati menyingkirkan penyesalan. Bisa? Pasti bisa, pasti sanggup.

Benarkah semudah dan segampang itu? Kemungkinan iya, kemungkinan juga tidak. Tergantung dengan pemahaman terhadap hikmahnya kegagalan yang terjadi.
Ada hikmah? Betulkah? Di mana letaknya?
Terkadang hati bertanya tentang kebenaran sebuah hikmah dibalik kegagalan, sering juga tidak menjumpainya. Sekuat apapun otak memikirkan, sekuat itu pula hikmah bersembunyi berbungkus kegagalan.
Tiada imankah hati ini hingga begitu sulit berpikir positif ketika harapan tinggal kenangan. Aku tak tahu, ingin mencari tahu tapi tak menemui jalan.

Berpikir kebelakang mengenang raut muka polos, berambut tak panjang, tak pendek pula, Bentuk tubuh sederhana. Gagal move on kah ini? Apa seperti ini rasanya? Haha, tak tahu pula aku. terlalu dini bagi diriku untuk memikirkan hal semacam itu, terlalu berlebihan atau terlalu bodoh? Banyak pertanyaan menyeruak memenuhi otak yang tak ber iQ tinggi ini.
Weleh-weleh, nampaknya ada yang galau ini? Haha, move on hoi, move on, celoteh sahabat. Dengan cepat kubalas SORRY BRO, NO WOMAN NO CRY 😭, dengan emoji menangis ku cantumkan. Bercanda hoi, bercanda. Ku balas saja dengan membentuk bibir bulan sabit.😕

Aku melayangkan pandangan kegaleri HP, kubuka file-file tersimpan, kujelajahi handphone ku, berhenti sejenak ketika melihat foto itu, jangan bertanya siapa, jari jempol terdiam tak tahu harus berbuat apa.
Delete?
Terpikir kata itu. Eh nanti kalau ingin melihat bagaimana caranya? Muncul lagi deh pertanyaan, tiada habisnya.
Tertekan tombol DELETE.
Yakin untuk menghapus? Ya/tidak. Termenung, kembali berpikir. Ini otak seperti bermain catur saja, banyak-banyak berpikir. Ah, kutekan saja tombol tengah, kembali netral.

 

Cerita tak melulu tentang keindahan, adakalanya terisi oleh kenangan pahit, bisa juga sepahit-pahitnya. Makanpun jika tak terdapat bumbu rasanya hambar, begitu pula dengan hidup dalam lingkaran percintaan, selalu di bumbui dengan berbagai hal dari yang rumit hingga sederhana, dari yang biasa saja hingga amazing, luar biasa.

Dalam pertengahan malam tetap kulanjutkan cerita dulu, aku ceritakan saja semauku tapi tak aku lebihkan apa lagi dikurangkan. Kunikmati prosesnya. Apa ada yang merasa bosan dengan percintaan? Tak bosan jika Terdapat nafsu. Bukanya diri ini sok baik atau sok suci, tapi memang ini sudah zamannya cinta dengan nafsu menjadi satu.
Pacaran tanpa nafsu itu munafik.
Banyak orang berkata seperti itu.
Tapi sayang, kita pacaran dulu tak berciuman bukan? Memegang tanganmu pun aku hindari. Kenapa begitu? Karna jarak 😅.
Mungkin saja jika berdekatan atau berdua nafsu dapat mengambil alih diriku.
Mungkin saja, dan mungkin itu kebenaran.

Terkadang, diri merenung memikirkan betapa ruginya melepaskanmu, hanyalah kenangan tersisa dari hubungan yang telah terjalin sekian lama. Apa aku harus mengulang kembali? Flash back? Ah tak mungkin rasanya, tak perlu kulakukan itu, hanyalah menambah beban pikiran.
Jika saatnya nanti aku benar-benar bisa melupakan semua tentangmu, semuanya, selupa-lupanya. Harapku untukmu jiwa yang pernah memperjuangkanku, jangan datang lagi dalam kehidupanku lagi. Jangan mendekat walau sejengkal saja. Hargailah usahaku untuk melupakan kenangan yang ada, aku menerima dengan ikhlas kenyataan dilupakan olehmu, ikhlaskan pula diriku mencari penggantimu.

Pergi dan pergilah. Jauh sejauh-jauhnya.
Inilah jalan terbaik untukmu dan untukku, tak kan ada jalan lain selain ini. Maka anggaplah aku sebagai musuhmu hingga batinmu puas tak tersisa kenangan lagi menjadi orang tak dianggap.
Kulangkahkan kaki menuju kegelapan malam, agar orang tak mengetahui bahwa aku berjalan sendirian.

Pena hitam

By: Gendoon

Curhatan Gagal Galau Gendoon indah Kehidupan Mantan masa lalu sedih

Penulis: 
author
Kami adalah seorang penulis yang giat menulis dan membaca, berbagi informasi yang Insya Allah bermanfaat untuk diri kami sendiri dan orang lain.

Posting Terkait

Tinggalkan pesan